CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Minggu, 03 November 2013

laporan sistem pencernaan

I.       PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pada dasarnya sistem pencernaan makanan dalam tubuh manusia terjadi di sepanjang saluran pencernaan dan dibagi menjadi 3 bagian, yaitu proses penghancuran makanan yang terjadi dalam mulut hingga lambung. Selanjutnya adalah proses penyerapan sari-sari makanan yang terjadi didalam usus. Kemudian proses pengeluaran sisa-sisa makanan melalui anus. Saluran pencernaan manusia memanjang dari mulut sampai anus, terdiri dari mulut (kaum olis), kerongkongan (esofagus), lambung (ventlikulus), usus halus (intestinum), usus besar (kolon), dan anus.
Urine merupakan bahan kimia yang tidak diperlukan lagi di dalam tubuh setelah mengalami penyaringan, pada saat urine mengalir melalui pembuluh-pembuluh kecil menuju ke pusat ginjal, urine dikumpulkan dalam piala ginjal, dari ginjal inilah mengalir urine melalui aliran ginjal kandungan kemih sampai tiba saatnya dikeluarkan dari dalam tubuh.
Setelah melalui proses pencernaan, akan terjadi ekskresi urin atau air seni. Sekresi urin adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Eksreksi urin diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh. Oleh karena itu, proses-proses tersebut sangat vital pada aktivitas dalam tubuh makhluk hidup, terutama manusia sehingga perlu untuk kita ketahui.

B. Tujuan dan Manfaat Praktikum
            Tujuan yang ingin dicapai pada praktikum ini adalah sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui proses menelan pada pencernaan manusia.
2.      Untuk mengetahui proses ekskresi urine.
Manfaat yang dapat diperoleh dari praktikum ini adalah dapat memberikan informasi mengenai sitem pencernaan dalam hal ini saat terjadi proses menelan baik tubuh dalam posisi normal (berdiri tegap), maupun pada posisi mulut di bawah lambung pada sistem pencernaan manusia serta informasi mengenai eksresi urine pada manusia dan organ apa saja yang ikut serta dalam proses ini.

II.          TINJAUAN PUSTAKA
A.    Proses Menelan pada Manusia
            Proses menelan merupakan suatu proses yang kompleks, yang memerlukan setiap organ yang berperan harus bekerja secara terintegrasi dan berkesinambungan. Dalam proses menelan ini diperlukan kerjasama yang baik dari 6 syaraf cranial, 4 syaraf servikal dan lebih dari 30 pasang otot menelan (Bambang, 1994).
          Pada proses menelan terjadi pemindahan bolus makanan dari rongga mulut ke dalam lambung. Secara klinis terjadinya gangguan pada deglutasi disebut disfagia yaitu terjadi kegagalan memindahkan bolus makanan dari rongga mulut sampai ke lambung (Bambang, 1994). Proses menelan diatur oleh sistem saraf yang dibagi dalam 3 tahap :
1.    Tahap afferen/sensoris dimana begitu ada makanan masuk ke dalam orofaring langsung akan berespons dan menyampaikan perintah.
2.    Perintah diterima oleh pusat penelanan di Medula oblongata/batang otak (kedua sisi) pada trunkus solitarius di bag. Dorsal (berfungsi utuk mengatur fungsi motorik proses menelan) dan nukleus ambigius yang berfungsi mengatur distribusi impuls motorik ke motor neuron otot yg berhubungan dgn proses menelan.
3.      Tahap efferen/motorik yang menjalankan perintah.
          Otot kerongkongan dapat berkontraksi secara bergelombang sehingga dapat mendorong makanan masuk ke dalam lambung, gerak kerongkongan ini di sebut gerak peristalis. Gerak peristalis merupakan gerak kembang kempis kerongkongan untuk mendorong makanan ke dalam lambung. Makanan di dalam kerongkongan hanya sekitar enam detik. Bagian pangkal kerongkongan ( paring ) berotot lurik, artinya kita menelan makanan jika telah di kunyah sesuai dengan kehendak kita. Akan tetapi, sesudah proses penelanan sehingga mengeluarkan proses. Kerja otot-otot organ pencernaan selanjutnya tidak menurut kehendak kita ( tidak di sadari ) (Anonimous, 2011).
            Proses pencernaan makanan di dalam tubuh ada dua macam, yaitu proses pencernaan mekanis dan proses pencernaa kimiawi. Proses pencernaan mekanis adalah pemecahan atau penghancuran makanan secara fisik atau proses pencampuran makanan dengan getah (enzim). Contohnya gigi memotong – motong dan mengunyah makanan, lidah, otot-otot lambung dan usus yang mencampur makanan dengan enzim, gerak yang mendorong makanan dari kerongkongan sampai ke usus (gerak peristaltik). Proses pencernaan kimiawi adalah proses pemecahan makanan dari molekul kompleks menjadi molekul-molekul yang sederhana dengan bantuan getah pencernaan (enzim) yang dihasilkan oleh kelenjar pencernaan. Sistem pencernaan pada manusia umumnya hampir sama dengan hewan vertebrata lain yang terdiri atas saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan. Saluran pencernaan terdiri dari alat-alat pencernaan yang berhubungan langsung dengan proses pencernaan mekanis dan kimiawi. Saluran pencernaan pada manusia terdiri dari mulut, kerongkongan (esophagus), lambung (gaster), usus halus (intestinum tenue), usus besar (kolon) dan anus. Kelenjar pencernaan merupakan organ yang menghasilkan berbagai enzim yang membantu proses pencernaan makanan (Anonimous, 2011).
http://gurungeblog.files.wordpress.com/2008/11/sistem-pencernaan.jpg
Gambar 6. Saluran pencernaan pada manusia (Wikipedia, 2011).


B.     Ekskresi Urin pada Manusia
Urine atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjalyang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Eksreksi urin diperlukan untukmembuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh. Namun, ada juga beberapa spesies yang menggunakan urin sebagai sarana komunikasi olfaktori. Urin disaring di dalam ginjal, dibawa melalui ureter menuju kandung kemih, akhirnya dibuang keluar tubuh melalui uretra (Scribd, 2011).
Secara umum urin berwarna kuning. Urin encer warna kuning pucat (kuning jernih), urin kental berwarna kuning pekat, dan urin baru / segar berwarna kuning jernih. Urin yang didiamkan agak lama akan berwarna kuning keruh. Urin berbau khas jika dibiarkan agak lama berbau ammonia. pH urin berkisar antara 4,8 – 7,5 urin akan menjadi lebih asam jika mengkonsumsi banyak protein, dan urin akan menjadi lebih basa jika mengkonsumsi banyak sayuran. Berat jenis urin 1,002 – 1,035. Volume urin normal per hari adalah 900–1200 ml, volume tersebut dipengaruhi banyak faktor diantaranya suhu, zat-zat diuretika (teh, alkohol, dan kopi), jumlah air minum, hormon ADH, dan emosi (Basoeki, 2000).
Urine yang dikeluarkan oleh tubuh dalam sehari dapat berjumlah 900-1500 ml/24 jam, bervariasi dengan asupan cairan dan jumlah kehilangan cairan melalui rute lain. Rata-rata berat jenis urine berkisar antara 1,002-1,030 (petunjuk jumlah zat yang terlarut dalam urine). Urine bersifat asam dengan pH sekitar 6,0 (dengan diet biasa). Warna yang ditimbulkan oleh urine merupakan penaruh dari urokrom yang pigmen asalnya tidak pasti. Komposisi dari urine, yaitu air, urea 20-30 gr/jam, asam urat 0,6 gr/24 jam, kretinin 1-2 gr/24 jam, ammonia, natrium, klorida, kalium, sulfat, serta fosfat (Anonimous, 2011).
Urine atau air seni dihasilkan daalam proses penyaringan darah dan ginjal. Kandungan urine bergantung keadaan kesehatan daan makanan sehari-hari yang dikonsumsi oleh masing-masing individu. Individu normal meempunyai pH antara 5 sampai 7. Banyak faktor yang memperngaruhi pH urine seseorang adalah makanan sehari-hari, tempoh selepas pengutipan sampei, infeksi saluran urinary dan ketidakseimbangan hormonal (Mitsukoraynzz, 2012).
Urin terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme (seperti urea), garam terlarut, dan materi organik. Cairan dan materi pembentuk urin berasal dari darah atau cairan interstisial. Komposisi urin berubah sepanjang proses reabsorpsi ketika molekul yang penting bagi tubuh, misal glukosa, diserap kembali ke dalam tubuh melalui molekul pembawa. Cairan yang tersisa mengandung urea dalam kadar yang tinggi dan berbagai senyawa yang berlebih atau berpotensi racun yang akan dibuang keluar tubuh. Materi yang terkandung di dalam urin dapat diketahui melalui urinalisis ( Putra, 2012).
            Secara umum ada 3 proses utama yaitu filtrasi glomerulus, reabsorbsi tubulus dan yang terakhir adalah sekresi tubulus (Sherwood, 2001). Interpretasi warna urin dapat menggambarkan kondisi kesehatan organ dalam seseorang :
a.  Keruh, kekeruhan pada urin disebabkan adanya partikel padat pada urin seperti bakteri, sel epithel, lemak, atau Kristal-kristal mineral.
b.  Pink, merah muda dan merah. Warna urin seperti ini biasanya disebabkan oleh efek samping obat-obatan dan makanan tertentu seperti bluberi dan gula-gula, warna ini juga bisa digunakan sebagai tanda adanya perdarahan di system urinaria, seperti kanker ginjal, batu ginjal, infeksi ginjal, atau pembengkakkan kelenjar prostat.
c.  Coklat muda seperti warna air teh, warna ini merupakan indicator adanya kerusakan atau gangguan hati seperti hepatitis atau serosis.
d. Kuning gelap, warna ini disebabkan banyak mengkonsumsi vitamin B     kompleks yang banyak terdapat dalam minuman berenergi.
 
III.    METODOLOGI PRAKTIKUM
A.    Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 01 Juni 2013 pukul 09.00-12.00 WITA di Laboratorium Reproduksi Jurusan Peternakan Fakultas Peternakan Universitas Haluoleo, Kendari.

B.     Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum proses menelan dan eksresi urine pada manusia dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Alat dan kegunaannya pada praktikum proses menelan dan eksresi urine pada manusia
No.
Alat
Kegunaan
1.
2.
3.
4.
Tabung reaksi
Kertas pH
Alat tulis
Kamera
Untuk  tempat menyimpan urine
Untuk mengukur pH urine
Untuk mencatat hasil pengamatan
Untuk mendokumentasikan proses praktikum

            Bahan yang digunakan pada praktikum proses menelan dan eksresi urine pada manusia dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Bahan dan kegunaannya pada praktikum proses menelan dan eksresi urine pada manusia
No.
Bahan
Kegunaan
1.

2.

3.

4.
Aqua gelas

Teh gelas

Pisang

Sampel urine
Sebagai bahan praktikum untuk eksresi urine
Sebagai bahan praktikum untuk eksresi urine
Sebagai bahan praktikum untuk proses menelan
Sebagai objek amatan

C.    Prosedur Kerja
Prosedur kerja yang dilakukan pada praktikum ini adalah sebagai berikut :
1.      Proses Menelan
a.      Mengambil sebuah pisang, kemudian memakannya kemudian menelan pisang tersebut dalam posisi berdiri tegap.
b.      Kemudian menelannya pada posisi jongkok dimana posisi mulut ada di bawah posisi lambung.
c.       Mencatat kejadian dari kedua posisi tersebut
2. Ekskresi urine
a.       Menyimpan sampel urine didalam tabung reaksi.
b.      Mengukur pH urin tersebut
c.       Setelah 10 menit, meminum segelas aqua
d.      Kemudian praktikan yang diambil sampel urinenya buang urine lagi lalu disimpan didalam tabung reaksi
e.       Mengukur pH urine tersebut
f.       Setelah 10 menit kemudian, praktikan meminum lagi segelas teh
g.      Kemudian praktikan yang diambil sampel urinenya buang urine lagi lalu disimpan didalam tabung reaksi
h.      Mengukur pH urine tersebut
i.        Mencatat pH urin yang diperoleh.
 

IV.             HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Proses Menelan pada Manusia
            Hasil pengamatan pada praktikum proses menelan pada manusia dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Hasil pengamatan pada praktikum proses menelan pada manusia
No.
Perlakuan
Hasil
1.
Menelan dengan posisi beridiri normal
Posisi mulut lebih tinggi dari posisi lambung, sehingga makanan lebih mudah untuk dicerna dan cepat sampai ke lambung.
2.
Menelan dengan posisi jongkok
Posisi mulut lebih rendah dari posisi lambung, sehingga bolus lebih sulit ditelan dan  lambat sampai ke lambung

Berdasarkan hasil pengamatan pada proses menelan dengan posisi normal (berdiri tegap) menunjukkan bahwa posisi mulut lebih tinggi dibandingkan dengan posisi lambung, sehingga proses menelan lancar (makanan mudah untuk ditelan). Sedangkan proses menelan dengan posisi jongkok sulit dalam menelan dikarenakan posisi mulut lebih rendah dibandingkan dengan posisi lambung sehingga makanan sukar untuk ditelan dan tidak mudah sampai ke lambung karena tidak terjadi gerak peristaltik. Hal ini tidak jauh berbeda dengan yang dilaporkan oleh Insanz (2012), yang menyatakan bahwa proses menelan merupakan suatu proses yang kompleks, yang memerlukan setiap organ yang berperan harus bekerja secara terintegrasi dan berkesinambungan. Pada proses menelan terjadi pemindahan bolus makanan dari rongga mulut ke dalam lambung. Dalam proses menelan akan terjadi hal-hal seperti pembentukan bolus makanan dengan bentuk dan konsistensi yang baik, usaha sfingter mencegah terhamburnya bolus ini dalam fase-fase menelan, kerja sama yang baik dari otot-otot di rongga mulut untuk mendorong bolus makanan ke arah lambung dan pada saat inilah terjadi gerak peristaltik (gerak kembang kempis kerongkongan untuk mendorong makanan masuk ke dalam lambung), mencegah masuknya bolus makanan dan minuman ke dalam nasofaring dan laring, mempercepat masuknya bolus makanan ke dalam faring pada saat respirasi, usaha untuk membersihkan kembali esofagus.

B. Ekskresi Urine pada Manusia
            Hasil pengamatan pada praktikum proses ekskresi urine pada manusia dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Hasil pengamatan pada proses ekskresi urine pada manusia
No.
Perlakuan
Hasil (pH)
1.
Sebelum minum
5 (asam)
2.
Setelah minum air mineral
5 (asam)
3.
Setelah minum air teh
5 (asam)

            Berdasarkan hasil pengamatan pada perobaan ekskresi urine dengan melakukan pengukuran pH urine menggunakan kertas pH, sebelum diberi perlakuan pH urine 5, setelah minum air mineral pH urine tetap 5, sama halnya pada saat minum air teh manis pH urine tetap 5. Hal ini disebabkan karena belum terjadinya proses metabolisme baik dari air mineral yang diminum maupun teh gelas yang telah diminum, akan tetapi pada pH urine bisa saja terjadi perubahan, jika teh gelas dan air mineral tersebut telah dicerna dengan baik oleh tubuh, dan  banyak faktor lainnya yang dapat mempengaruhi pH urine iru sendiri.Hal ini sesuai dengan  yang dilaporkan oleh Mitsukoraynzz (2012), urine atau air seni dihasilkan dalam proses penyaringan darah dan ginjal. Kandungan urine bergantung keadaan kesehatan daan makanan sehari-hari yang dikonsumsi oleh masing-masing individu. Individu normal mempunyai pH antara 5 sampai 7. Banyak faktor yang memperngaruhi pH urine seseorang adalah makanan sehari-hari, tempoh selepas pengutipan sampei, infeksi saluran urinary dan ketidakseimbangan hormonal.


V.                PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan pada praktikum ini dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
1.      Posisi tubuh sangat menentukan cepat atau lambatnya proses menelan         makanan karena adanya gerakan peristaltik yaitu gerak kembang kempis kerongkongan untuk mendorong makanan ke dalam lambung.
2.      Urine bersifat asam dengan pH sekitar 5,0.

B.     Saran
Saran yang dapat saya ajukan pada praktikum ini adalah sebaiknya ketika praktikan melakukan praktikum hendaknya mengamati percobaan secara teliti sehingga hasil pengamatan yang didapatkan lebih jelas dan mendetail serta diharapkan dapat lebih membantu dalam proses pembuatan laporan yang terkait dengan percobaan tersebut.














Tidak ada komentar:

Posting Komentar